Lihatlah.











“Tak ada lagi yang mesti kupertaruhkan. Selama ini jiwaku sudah kau benamkan. Saat semuanya indah-dulu, kau mengelak. Hatiku benar-benar sudah tertutup rapat. Ruang hatiku disini tak akan rela masukkan kenangan yang runtuh usai. Kau tahu betapa sakitnya itu?
Ah sudahlah. Kebencianku bahkan sudah pekat kelam. Tinta hitam hatiku sudah kubekaskan namamu. Bahkan meski memaafkan wajib musti dijabah. Kurasa itu tak laku untukku.
Silahkan kau cari yang lain. Yang jauh lebih dariku, yang kaya, yang gagah permai, yang buat Mamak Kau itu senang. Bukankah dulu hubungan kita tak berkesan dihatimu. Tak lekat dalam ingatmu.
Sekarang aku sudah jaga dari mimpi harammu. Aku sudah tahu hati busukkmu itu. Bolehlah hari ini Aku kau tekukkan. Bolehlah, hari ini kutunduk padamu. Lihatlah esok. Ku semai kebencian yang sudah kau tanam dalam ladang hatiku. Bersiaplah.”
Kau tahu sebenarnya cinta itu dusta. Sayang yang kau ciptakan itu bohong belaka. Tak masalah saat kau benar senang akan cinta itu, akhirnya pasti kau terbenam jua. Kurasa efek cinta yang sudah-sudah membuatku mengerti, Jika hanya satu yang akan benar merasuk jiwa. Bahwa hanya akan satu yang buatku mencelup udara dunia setelah terbenam sedemikian dalam.
Cerita cintaku bukan omong belaka sekarang. Sudah banyak yang hinggap, menumpang, menimba madu hatiku. Sudah banyak pula yang sebenarnya Aku sangat sayangi. Yang bahkan sampai sekarang  tak bisa lekang di hati.
Atau. Sudah sering juga hati ini sakit. Digores taring moncong-moncong pengambil madu. Dan juga banyak yang aku racuni dengan maduku pula.
 Entahlah, nasibku benar malang kalau bicara cinta. Apakah kau juga pernah berkelana dalam fase ini?. Semoga Tidak.

--Achmad Rifaldo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar