“Pelukmu
adalah ketenangan jiwa. Benar saja, nyaman hidup menggebu datang rombongan
masuk pikiranku saat kau jatuhkan lambain tanganmu itu padaku. Kau tahu,
sebenarnya hati ini begitu cinta. Kau lihat, bukalah hati ini. Jikalau kau
tidak temukan rasa cintaku, mungkin kau salah. Kau tak serius mencari.
Ambillah
pisau. Sayatlah
hati ini. Aku takkan marah. Aku takkan benci, dendam. Aku
terlalu cinta padamu. Mengertilah. Hanya itu pintaku.”
Kau
tahu. Tak salah orang-orang merealkan
bentuk hati dengan runcing kebawah. Kau lihatlah. Dari depan itu indah. Dari
belakangpun begitu. Samping kiri, samping kanan. Tetap sama.
Tak
salah cinta itu memang membuat kita cinta. Mata pun ditutup dari hal
sebenarnya. Disogok dengan keindahan tadi. Sehingga kita sejenak berpikir bahwa
itu sangat aman, sangat nyaman. Dan melupakan bagian runcing kebawah.
Disaat
kau bercinta. Saat kau sudah
menjalani cinta kau setapak jalan. Siruncing berakasi. Menosok bagian lain dari
dirinya sendiri. Tak masalah jika sebenarnya dia menyakiti diri sendiri. Tak
masalah. Hingga benar-benar hancur. Tak masalah.
Disinilah
kau harusnya bertindak. Bagaimana kau menghadapinya. Itulah “cinta” sebenarnya.
Selamat bercinta.
---Achmad Rifaldo



Tidak ada komentar:
Posting Komentar